160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT

Kemarau Mencekam, Kemenag Halut Gelar Shalat Istisqa, ‘Mengetuk Pintu Langit’ Memohon Hujan

Kemenag Halut gelar shalat Istisqa di depan Kodim 1508/Tobelo.(foto/chalo)

Kilasmalut.com – Kemarau panjang yang melanda Halmahera Utara (Halut) mulai menimbulkan kekhawatiran. Di tengah cuaca panas dan sejumlah wilayah yang mulai mengalami kekeringan, Kementerian Agama (Kemenag) Halut menggelar shalat Istisqa untuk memohon turunnya hujan.

Shalat meminta hujan itu digelar di halaman Makodim 1508/Tobelo, Kamis (3/96), sekitar pukul 10.00 WIT. Ratusan jamaah dari unsur Forkopimda, guru, serta siswa di lingkungan Kemenag Halut turut hadir dalam pelaksanaan tersebut.

Shalat Istisqa dipimpin Ustaz Ahmad Almusawa sebagai imam, sementara Wakil Bupati Halut, Dr. Hi. Kasman Hi. Ahmad, bertindak sebagai khatib.

Dalam khotbahnya, Kasman mengajak seluruh jamaah menjadikan kemarau panjang sebagai momentum untuk bermuhasabah dan memperkuat ketakwaan kepada Allah SWT.

Menurutnya, pelaksanaan shalat Istisqa bukan sekadar ritual untuk meminta hujan, tetapi juga menjadi momentum bagi manusia untuk menyadari tanggung jawabnya dalam menjaga bumi.

“Hari ini kita semua berkumpul dalam kebersamaan, bermunajat, mengetuk pintu langit, mengharap keberkahan turunnya hujan untuk keberlanjutan kehidupan di bumi,”kata Kasman.

Ia mengingatkan bahwa bumi telah memberikan ruang bagi manusia untuk hidup, tumbuh dan menikmati berbagai karunia Allah SWT. Karena itu, manusia harus tetap bersyukur dalam suka maupun duka serta menyadari bahwa setiap peristiwa merupakan bagian dari ketentuan-Nya.

Kasman juga mengajak jamaah memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW yang menjadi teladan dalam memperlakukan alam dan seluruh makhluk ciptaan Allah.

Baca Juga :  Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Ternate Salurkan Bantuan Sosial Untuk Masyarakat

“Beliau adalah suri teladan dalam merawat bumi ini dengan penuh kasih sayang. Kita diajarkan menjaga keseimbangan ekosistem, merawat sumber daya alam, menghindari pemborosan, serta merawat tumbuhan dan hewan yang ada di bumi,”ujarnya.

Lebih jauh, Kasman meminta masyarakat menjadikan kondisi lingkungan saat ini sebagai bahan introspeksi. Ia mempertanyakan sejauh mana manusia telah menjaga alam dan apakah kerusakan lingkungan mulai menunjukkan dampaknya terhadap kehidupan.

“Apakah kita sudah dengan baik menjaganya? Ataukah tanda-tanda kerusakan sudah terlihat dan dampak negatifnya sudah kita rasakan?”tegasnya.

Menurut Kasman, jika kerusakan lingkungan mulai terlihat dan dirasakan, maka masyarakat tidak boleh hanya menunggu bencana datang. Kesadaran harus segera diwujudkan melalui komitmen nyata untuk menjaga lingkungan.

Ia menegaskan, upaya tersebut harus dimulai dari setiap individu dan kemudian berkembang menjadi gerakan bersama.

Kemarau panjang yang kini dirasakan masyarakat, lanjutnya, juga harus menjadi bahan evaluasi. Perubahan cuaca yang semakin sulit diprediksi serta meningkatnya suhu panas bumi tidak bisa dilepaskan dari kondisi lingkungan yang semakin rusak.

Ia menyinggung semakin gundulnya kawasan pegunungan dan tandusnya lahan akibat penebangan pohon secara masif dan sembarangan.

Dampaknya pun dapat berbalik menjadi bencana ketika musim penghujan tiba. Minimnya kawasan resapan air dan berkurangnya pepohonan yang berfungsi memperkuat tanah dapat mempercepat aliran air dan meningkatkan risiko banjir maupun longsor.

Baca Juga :  Wabup Halut Turun Ke Lokasi Banjir Galela Utara, Dua Jembatan Trans Galela–Loloda Terancam Lumpuh

Persoalan lingkungan juga semakin diperburuk dengan penumpukan sampah dan rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengelolanya.

“Maka itu, perlu komitmen kita untuk merawat jagat ini sehingga air tetap bisa mengalir membawa rahmat bagi alam semesta. Di antaranya dengan tidak menebang pohon sembarangan dan memperkuat reboisasi agar bumi tetap hijau dan sejuk,”jelasnya.

Bukan Sekadar Meminta Hujan

Sementara itu, Kepala Kemenag Halut, Abdurahman M. Ali, mengatakan pelaksanaan shalat Istisqa merupakan inisiatif Kemenag Halut. Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Halut juga telah melaksanakan shalat Istisqa dan doa bersama untuk memohon turunnya hujan.

Menurut Abdurahman, kegiatan tersebut tidak hanya melibatkan umat Islam. Kemenag Halut juga menjadwalkan kegiatan doa bagi umat Nasrani sebagai bentuk kebersamaan dalam menghadapi kondisi kemarau.

“Pelaksanaan kegiatan ini dilaksanakan di dua tempat berbeda. Umat Islam hari ini melaksanakan shalat Istisqa di lapangan Makodim 1508/Tobelo, sementara saudara-saudara kita yang Nasrani akan melaksanakan doa di gereja malam nanti. Pelaksanaannya terpisah, tetapi tujuannya tetap satu,”terangnya.

Ia berharap gerakan memohon hujan tersebut tidak berhenti pada kegiatan yang digelar Kemenag maupun pemerintah. Masyarakat juga diimbau dapat melaksanakan shalat Istisqa di masjid-masjid di wilayah masing-masing.

“Apabila masyarakat ingin melaksanakan shalat Istisqa, silakan dilaksanakan demi kebaikan kita bersama. Mari bermunajat kepada Allah SWT untuk memohon hujan,”tuturnya.(red)

You might also like
Lorem Ipsum Dolor Amet?

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor

Promo Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !
error: Content is protected !!