160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT

Di Tengah Sibuk Jadi Wabup, Kasman Terbitkan Buku Ke-10

Bacarita buku Sekolah Rumah Pendidikan, penulis Wabup Halut, Dr Hi. Kasman Hi. Ahmad.(istimewa)

Kilasmalut.com – Di tengah padatnya aktivitas sebagai Wakil Bupati Halmahera Utara (Halut), Dr. Hi. Kasman Hi. Ahmad, tetap menjaga jejaknya di dunia literasi. Tepat di usia ke-56 tahun, Kasman meluncurkan buku ke-10 berjudul “Sekolah Rumah Pendidikan”, Sabtu (5/9) malam.

Peluncuran sekaligus bedah buku tersebut dikemas melalui kegiatan “Bacarita Buku” yang berlangsung di kediaman Wakil Bupati Halut. Forum itu menghadirkan Asghar Saleh sebagai esais dan Dr. Jubhar Mangimbulude, M.Si., dari kalangan akademisi sebagai pembahas, dengan Syarifuddin Usman bertindak sebagai moderator.

Momentum peluncuran buku ke-10 itu menjadi lebih istimewa karena bertepatan dengan hari ulang tahun Kasman yang ke-56. Bukan sekadar perayaan usia, momen tersebut sekaligus menandai perjalanan intelektual Kasman yang telah melahirkan 10 karya buku.

Ketua ICMI Orda Halut, Eka Putra, mengatakan kegiatan “Bacarita Buku” merupakan hasil koordinasi ICMI Maluku Utara, ICMI Orda Halut bersama sejumlah organisasi kepemudaan (OKP).

Menurut Eka, forum tersebut tidak hanya menjadi ruang membedah sebuah buku, tetapi juga wadah pertukaran gagasan untuk mencari perspektif baru bagi pembangunan Halmahera Utara, khususnya sektor pendidikan.

“Kami berharap kegiatan ini menjadi bagian dari gagasan untuk pembangunan Halmahera Utara. Terima kasih kepada seluruh pihak yang hadir dan memberikan pikiran serta gagasan, khususnya untuk kemajuan pendidikan,”ujar Eka.

Eka juga memberikan apresiasi atas konsistensi Kasman dalam menulis. Menurutnya, kesibukan sebagai Wakil Bupati tidak menjadi penghalang untuk tetap produktif melahirkan karya intelektual.

Baca Juga :  Razia Di Pelabuhan Ahmad Yani, Polisi Amankan 28 Botol Cap Tikus Di KM Sangiang

“Walaupun di tengah kesibukan yang luar biasa, beliau masih berkesempatan dan memiliki waktu untuk menyusun buku ke-10 ini. Harapannya, ke depan akan lahir karya-karya lainnya yang dapat mendukung sekaligus memperkuat literasi di Halmahera Utara,”katanya.

Sekolah Jangan Direduksi Jadi Ruang Kelas

Sementara itu, Kasman menjelaskan, “Sekolah Rumah Pendidikan” lahir dari kegelisahannya terhadap cara pandang yang selama ini cenderung memisahkan sekolah dari tanggung jawab pendidikan yang lebih mendasar.

Bagi Kasman, keluarga merupakan rumah pertama bagi anak, sementara sekolah harus hadir sebagai rumah kedua. Karena itu, sekolah tidak boleh hanya dipandang sebagai tempat berlangsungnya proses belajar-mengajar, tetapi harus menjadi ruang hidup yang mampu membentuk karakter dan kedewasaan peserta didik.

“Sekolah sebagai rumah tidak sekadar metamorfosis dari sebuah sekolah. Di dalamnya ada ruang hidup, ruang untuk tumbuh, dan ruang untuk membentuk karakter anak-anak kita,”jelas Kasman.

Gagasan tersebut, kata dia, sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menempatkan pendidikan sebagai proses menuntun potensi anak agar tumbuh menjadi manusia yang bertanggung jawab serta mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan di masa depan.

Karena itu, Kasman mendorong adanya rekonstruksi dan transformasi cara pandang terhadap sekolah. Sekolah, menurutnya, tidak boleh berhenti pada simbol fisik berupa ruang kelas, meja dan papan tulis.

Sekolah harus menjadi ruang yang menumbuhkan kebersamaan, solidaritas, pemberdayaan, sekaligus membangun lingkungan yang aman bagi anak.

Baca Juga :  Pempus Batalkan Tiga Proyek Irigasi Di Halut, Ini Penyebabnya

“Sekolah harus betul-betul dimaknai sebagai ruang hidup. Di dalamnya tumbuh rasa kebersamaan, rasa solidaritas dan saling memberdayakan, serta bebas dari perundungan dan kekerasan,”katanya.

Pendidikan 3T Tak Bisa Diseragamkan

Kasman juga menyoroti ketimpangan karakteristik sekolah, terutama antara wilayah perkotaan dengan kawasan tertinggal, terdepan dan terluar (3T).

Menurutnya, kondisi tersebut menuntut pola penanganan pendidikan yang tidak bisa diseragamkan. Setiap sekolah memiliki tantangan, kebutuhan dan lingkungan sosial yang berbeda sehingga kebijakan pendidikan harus mampu membaca realitas masing-masing wilayah.

Di sisi lain, perkembangan teknologi digital juga menjadi tantangan sekaligus peluang bagi dunia pendidikan.

Kasman menilai digitalisasi harus dimanfaatkan sebagai instrumen untuk memperluas akses informasi dan memperkuat kapasitas peserta didik. Namun, teknologi tidak boleh sekadar mendorong anak mengejar modernitas tanpa dibarengi kemampuan menyaring informasi dan mengambil nilai positif.

“Digitalisasi tidak boleh membuat anak-anak kita terjebak pada kebutuhan modernitas semata. Justru digitalisasi harus menjadi instrumen penting untuk mengakses informasi sekaligus mengambil nilai-nilai positif di dalamnya,”ujarnya.

Melalui buku ke-10 tersebut, Kasman berharap lahir perubahan cara pandang terhadap sekolah dan pendidikan. Baginya, sekolah harus dikembalikan pada hakikatnya sebagai ruang hidup tempat anak belajar, tumbuh, berkarakter dan mempersiapkan masa depan.

“Sekolah harus lebih dimaknai sebagai rumah kedua kita, rumah kedua bagi anak-anak kita, dan betul-betul dimanfaatkan untuk proses pendewasaan anak-anak di masa yang akan datang,”pungkasnya.(red)

 

You might also like
Lorem Ipsum Dolor Amet?

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor

Promo Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !
error: Content is protected !!