Kilasmalut.com – PT NICO menggelar pertemuan bersama para pengepul buah kelapa dari empat kecamatan di wilayah Galela, Sabtu (25/7), di Rumah Makan Mujair Dua Putri. Pertemuan tersebut membahas mekanisme pembelian buah kelapa, evaluasi kemitraan, hingga berbagai persoalan yang dihadapi para pengepul di lapangan.
Selain membahas harga pembelian, forum itu juga menjadi wadah evaluasi rutin antara perusahaan dan para mitra pengepul. Pertemuan serupa dijadwalkan berlangsung setiap bulan sebagai ruang diskusi untuk menyelesaikan berbagai kendala dalam rantai pasok kelapa.
Kegiatan tersebut dihadiri Manajer Pembelian PT NICO Rully dan Veby, Humas PT NICO Decky Tawaris, serta difasilitasi Anggota DPRD Halmahera Utara, Janlis G. Kitong.
Humas PT NICO, Decky Tawaris, mengatakan jaringan pengepul yang bermitra dengan perusahaan kini telah tersebar di hampir seluruh wilayah Halmahera Utara, mulai dari Kecamatan Kao Teluk hingga Galela Utara.
Menurutnya, khusus empat Kecamatan di wilayah Galela, para pengepul berada di bawah koordinasi Janlis G. Kitong yang selama ini memberikan dukungan pembiayaan untuk pembelian buah kelapa sebelum dipasok ke PT NICO.
“Saat ini pengumpul di empat Kecamatan Galela berada di bawah komando Janlis G. Kitong karena beliau yang membantu pembiayaan mereka untuk membeli buah kelapa sebelum dijual ke PT NICO,”kata Decky.
Ia menilai hubungan kemitraan antara Janlis dan para pengepul berjalan cukup baik. Meski menghadapi berbagai tantangan di lapangan, komunikasi dan koordinasi tetap terjalin sehingga para pengepul tetap bersemangat menjalankan usahanya.
“Pak Janlis selalu memberikan motivasi kepada mereka sehingga tetap semangat bekerja di lapangan,”ujarnya.
Ia menjelaskan, PT NICO saat ini menerapkan dua jalur pengadaan bahan baku, yakni melalui sistem pancang dan melalui jaringan pengepul yang membeli langsung dari petani. Namun, di wilayah Galela, peran pengepul dinilai masih lebih dominan dibanding sistem pancang.

Menurutnya, harga pembelian perusahaan sebesar Rp.2.200 per butir merupakan harga yang diterima pengepul. Sementara harga yang diterima petani lebih rendah karena pengepul harus menanggung seluruh biaya operasional, mulai dari pembelian di kebun, upah tenaga kerja, pengangkutan hingga biaya lainnya.
“Pengepul menggunakan modal mereka sendiri. Mereka membeli dari petani lalu menjual ke PT. NICO. Karena ada biaya operasional yang harus ditanggung, tentu ada selisih harga yang diterima petani,”jelasnya.
Decky juga mengungkapkan perusahaan berencana menambah kapasitas produksi dengan membangun pabrik baru. Langkah tersebut akan meningkatkan kebutuhan bahan baku kelapa sehingga kemitraan dengan para pengepul dan petani dinilai semakin penting.
“Ke depan PT NICO akan membangun pabrik lagi sehingga kebutuhan bahan baku akan semakin besar,”katanya.
Ia memberikan apresiasi kepada seluruh pengepul yang tetap bertahan bermitra dengan perusahaan meski beberapa kali menghadapi penurunan harga pembelian.
Decky menjelaskan, PT NICO hanya menyediakan fasilitas pengangkutan dari pangkalan pengepul menuju pabrik menggunakan truk perusahaan. Sementara seluruh proses pengumpulan kelapa di tingkat petani, termasuk biaya tenaga kerja dan operasional lapangan, menjadi tanggung jawab pengepul.
Saat ini PT. NICO membeli dua jenis kelapa, yakni kelapa utuh dengan harga Rp2.200 per butir dan kelapa kupas (lewang) sebesar Rp3.300 per butir.
Menurutnya, harga kelapa lewang yang diterapkan PT NICO merupakan salah satu yang tertinggi dibandingkan sejumlah daerah lain di Indonesia.
Decky juga menyampaikan apresiasi kepada para petani yang selama ini tetap mempercayakan hasil panennya kepada jaringan pengepul yang bermitra dengan PT NICO.
Selain itu, ia menegaskan keberadaan PT NICO telah memberikan kontribusi ekonomi yang cukup besar di Halmahera Utara. Perusahaan saat ini menyerap sekitar 4.000 tenaga kerja, belum termasuk ribuan pekerja yang direkrut para pengepul untuk kegiatan pembersihan kebun, pemanjatan pohon, hingga pengangkutan kelapa.
Sementara itu, salah seorang pengepul, Ikbal, mengungkapkan persoalan utama yang dihadapi para pengepul adalah tingginya jumlah kelapa yang ditolak (reject) saat proses sortir di pabrik karena tidak memenuhi standar ukuran.
Akibatnya, kelapa yang ditolak harus dibawa kembali sehingga menambah beban biaya dan menyebabkan kerugian bagi pengepul.
“Kami berharap sistem sortir dapat dievaluasi. Kalau memungkinkan, kelapa yang reject tetap dibeli dengan kategori tertentu sehingga kami tidak mengalami kerugian,”katanya.
Ikbal mengaku lebih memilih memasok kelapa lewang karena selain memiliki harga lebih tinggi, jenis tersebut tidak lagi melalui proses penyortiran sehingga dinilai lebih menguntungkan.
Pertemuan tersebut diharapkan menjadi momentum memperkuat kemitraan antara PT NICO, para pengepul, dan petani kelapa, sekaligus mencari solusi terhadap persoalan harga, kualitas bahan baku, dan keberlanjutan usaha kelapa di Halmahera Utara.(red)
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !