160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT

Mengenal Satwa Endemik Sejak Dini, Langkah Anak-anak Obi Menjaga Keanekaragaman Hayati

Pelajar SMA Negeri 35 Halmahera Selatan, Desa Soligi, memperlihatkan poster edukasi ekosistem kelautan dan satwa endemik dalam kegiatan Sahabat Konservasi yang diinisiasi Harita Nickel (Dok. Istimewa)

Kilasmalut – Bagi sebagian pelajar di Pulau Obi, satwa seperti Kuskus Obi, Walik Benjol, Kasturi Ternate, Kapasan Halmahera, hingga Soa Layar bukan lagi sekadar hewan yang sesekali terlihat di sekitar hutan atau kebun. Kini, mereka mulai memahami bahwa satwa-satwa tersebut merupakan bagian penting dari kekayaan hayati yang hidup di wilayah mereka.

Pemahaman itu tumbuh melalui rangkaian program edukasi lingkungan bertajuk Sahabat Konservasi yang dijalankan Harita Nickel di Pulau Obi. Program ini mengajak pelajar mengenal lebih dekat keanekaragaman hayati Pulau Obi dan Maluku Utara, sekaligus memahami hubungan antara satwa liar, hutan, dan kehidupan masyarakat.

Di Pulau Obi, upaya menjaga keanekaragaman hayati menjadi semakin penting seiring berkembangnya aktivitas industri dan perubahan lanskap yang terus berlangsung. Sepanjang 2025, Harita Nickel mencatat terdapat 167 spesies flora dan fauna yang teridentifikasi di area operasional dan sekitarnya. Data tersebut menjadi bagian dari penguatan Biodiversity Action Plan (BAP) 2026–2030 untuk mendukung pengelolaan keanekaragaman hayati secara lebih sistematis.

Program Sahabat Konservasi telah dijalankan sejak 2025 dan menjangkau sekitar 170 pelajar dari tingkat SD hingga SMA di Desa Soligi dan Kawasi. Kegiatan terkini berlangsung pada 6 Mei 2026 di SMA Negeri 35 Halmahera Selatan, Desa Soligi, dan diikuti oleh 42 siswa. Momentum ini juga menjadi bagian dari rangkaian edukasi lingkungan menjelang peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional.

Baca Juga :  PT. ASM Diduga Belum Kantongi RKAB 2026, DPP IMM Desak Satgas PKH Hentikan Operasi Dan Pemuatan Ore Nikel

Dalam kegiatan tersebut, tim konservasi dari Departemen Sustainability Harita Nickel menggunakan visualisasi satwa endemik, simulasi, dan diskusi kelompok untuk membantu para siswa memahami peran ekologis satwa liar serta pentingnya menjaga habitat di sekitar mereka.

Conservation Specialist Harita Nickel, Ricky Danang Pratama, mengatakan pendekatan interaktif dipilih agar pelajar lebih mudah memahami hubungan antara satwa liar, ekosistem, dan kehidupan masyarakat di Pulau Obi.

“Kami ingin siswa tidak hanya mengenal nama satwa endemik, tetapi juga memahami perannya dalam ekosistem dan kaitannya dengan kehidupan masyarakat di Pulau Obi,” ujarnya.

Pendekatan kenali dan peduli menjadi inti program ini. Pendekatan tersebut dinilai penting bagi Generasi Alpha, kelompok anak yang lahir pada periode 2010–2025 dan akan menjadi generasi penerus di tengah tantangan lingkungan yang semakin nyata. Dalam konteks ini, pendidikan lingkungan sejak usia dini menjadi penting untuk membangun kesadaran dan kapasitas generasi muda menghadapi perubahan ekologis di masa depan.

“Saya jadi lebih memahami kalau satwa yang sering kami lihat ternyata punya peran penting untuk hutan. Jadi lebih sadar kalau menjaga lingkungan juga penting untuk masa depan kami di Obi,” ujar Sahrul, salah satu siswa peserta kegiatan.

Program ini turut dievaluasi melalui pre-test dan post-test dengan hasil yang menunjukkan peningkatan nilai rata-rata peserta sebesar 30,6 persen.

Baca Juga :  NHM Bawa Semangat BK3N Dari Area Tambang Hingga Sekolah Lingkar Tambang

Peneliti Sekolah Pascasarjana dan Center for Environment and Sustainability Science Universitas Padjadjaran, Candra Wirawan Arief, menilai edukasi, monitoring, dan pemulihan lingkungan perlu berjalan beriringan dalam membangun tata kelola lingkungan yang lebih baik.

“Monitoring terhadap lingkungan termasuk sosial masyarakat harus secara terus menerus dilakukan, karena lingkungan ini bersifat dinamis dan akan selalu merespon setiap aktivitas manusia,” ujarnya.

Conservation Superintendent Harita Nickel, Sephy Noerfahmy, mengatakan pelibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan di Pulau Obi.

“Konservasi perlu dibangun bersama. Karena itu, kami ingin kesadaran menjaga keanekaragaman hayati tumbuh tidak hanya di lingkungan kerja, tetapi juga di tengah masyarakat dan generasi muda,” ujarnya.

Selain edukasi di sekolah, Harita Nickel juga mulai melibatkan masyarakat dalam upaya konservasi melalui patroli SMART (Spatial Monitoring and Reporting Tool) untuk memantau potensi gangguan di habitat sensitif sebagai bagian dari penguatan perlindungan habitat.

Di tengah aktivitas industri yang terus berkembang di Pulau Obi, ruang belajar dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan menjadi semakin penting. Dari rasa ingin tahu para pelajar terhadap satwa yang hidup di sekitar mereka, kesadaran menjaga lingkungan perlahan dibangun sebagai bagian dari masa depan Obi.

You might also like
Lorem Ipsum Dolor Amet?

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor

Promo Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !
error: Content is protected !!