Ancam Mobil PT. NICO Tak Bole Masuk Ke Galela
Kilasmalut.com – Anjloknya harga pembelian buah kelapa oleh PT. NICO di Kabupaten Halmahera Utara (Halut) memicu kemarahan petani. Harga yang terus ditekan dinilai sudah tidak lagi sebanding dengan biaya operasional panen yang terus meningkat, sehingga petani mengaku semakin tercekik.
Petani mengungkapkan, biaya panjat kelapa kini mencapai Rp10 ribu per pohon. Sementara biaya pembersihan kebun juga ikut melonjak sejak harga kelapa sempat mengalami kenaikan beberapa waktu lalu. Dengan harga beli buah kelapa yang kembali turun, hasil panen dinilai tidak lagi mampu menutup biaya produksi.
Di sisi lain, petani menilai lahirnya Peraturan Daerah (Perda) Hilirisasi justru mempersempit persaingan pasar. Aturan yang melarang bahan baku mentah keluar daerah disebut membuat sejumlah pengusaha yang sebelumnya membeli buah kelapa di Halmahera Utara memilih hengkang karena kegiatan pengolahan mereka berada di luar daerah.
Akibat minimnya persaingan pembeli, PT. NICO dinilai menjadi pihak yang mendominasi pasar dan leluasa menentukan harga. Kondisi tersebut, menurut petani, diperparah karena Perda Hilirisasi tidak mengatur mekanisme atau batasan harga pembelian buah kelapa, sehingga posisi tawar petani semakin lemah.
Kebijakan itu pun memicu sorotan terhadap Pemerintah Kabupaten dan DPRD Halmahera Utara yang dinilai belum mengambil langkah konkret untuk memanggil pihak perusahaan dan mencari solusi atas anjloknya harga kelapa yang terus dikeluhkan ribuan petani.
Saat ini, salah satu sentra pemasok buah kelapa terbesar bagi PT. NICO berada di Kecamatan Galela. Hampir setiap hari, puluhan truk perusahaan dilaporkan mengangkut buah kelapa dari wilayah tersebut menuju pabrik.
Ketua KPMG Maluku Utara, Yusmiyanti Y. Hamisi, mengaku pihaknya telah berkoordinasi dengan para petani di Galela untuk menggelar aksi unjuk rasa sebagai bentuk protes terhadap kebijakan harga yang dinilai merugikan.
“Kami sudah melakukan konsultasi dengan para petani di Galela untuk melakukan aksi di Jalan Trans Tobelo-Galela tepat di Pintu Batu. Tujuannya memblokade jalan agar mobil pengangkut buah kelapa milik PT. NICO tidak masuk ke Galela,”tegas Yusmiyanti, Kamis (23/7).
Ia juga menyatakan bahwa aksi akan terus dilakukan apabila tidak ada penyelesaian terhadap persoalan harga buah kelapa. Selain itu, Yusmiyanti melontarkan ancaman bahwa kendaraan operasional PT. NICO akan dibakar apabila tetap beroperasi di Galela tanpa adanya solusi terkait harga.
“Kami meminta agar Pemda dan DPRD Halut segera menunjau kembali Perda Hilirisasi, Pemerintah harus mencantum harga tetap dalam Perda tersebut, jangan hanya membuat Perda yang menguntungkan perusahaan,”tuturnya.(red)
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !