

Kilasmalut.com – Perubahan pola jual beli kelapa di Kecamatan Galela Barat, Kabupaten Halmahera Utara (Halut), ikut mengubah arah bisnis Rikson Tabala. Pengusaha asal Desa Kira yang sejak 2020 dikenal sebagai pembeli kopra itu kini mulai beralih dan serius membeli buah kelapa untuk disuplai ke PT NICO.
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Bisnis kopra yang sebelumnya mampu menghasilkan muatan hingga 120 ton per bulan, perlahan mengalami penurunan akibat semakin banyak petani yang memilih menjual buah kelapa secara langsung ketimbang mengolahnya menjadi kopra.
Rikson mengungkapkan, pada masa kejayaannya, dalam satu minggu ia mampu mengumpulkan lebih dari 30 ton kopra. Jika dikalkulasikan, dalam sebulan muatannya bisa mencapai sekitar 120 ton.
Namun, kondisi itu kini berubah.
“Dalam satu minggu muatan kopra saya bisa mencapai 30 ton lebih dan dalam satu bulan bisa sampai 120 ton. Tapi sekarang muatan kopra mulai berkurang karena petani lebih memilih menjual buah daripada membuat kopra. Membuat kopra pekerjaannya banyak,”ujar Rikson, Selasa (25/8).
Melihat perubahan tersebut, Rikson akhirnya mengambil langkah baru. Ia tidak lagi hanya membeli kopra, tetapi mulai membangun kerja sama dengan PT NICO untuk memasok buah kelapa.
Ia mengaku baru mulai membeli buah kelapa sekitar Maret 2026. Namun, dalam waktu relatif singkat, keputusan itu justru membawa dampak besar terhadap usahanya.
“Karena muatan kopra mulai berkurang, saya memutuskan bekerja sama dengan NICO untuk memasok buah kelapa. Saya mulai membeli buah sekitar Maret 2026, dan dampaknya luar biasa,”jelasnya.
Menurut Rikson, bisnis buah kelapa dinilai jauh lebih efektif dibandingkan kopra. Selain prosesnya lebih sederhana, risiko kerugian juga dianggap lebih kecil.
Jika kopra harus melalui proses panjang, mulai dari membelah kelapa, mencungkil isi, mengeringkan hingga pengasapan, buah kelapa dapat langsung dikumpulkan dan dikirim.
“Kalau kopra bisa susut apabila terlalu lama disimpan di gudang. Kalau buah kelapa ini lebih aman. Jadi, kita tidak terlalu dirugikan. Dari sisi pendapatan juga jauh lebih bagus di buah kelapa,”sambungnya.
Rikson bahkan menyinggung adanya ajakan dalam sebuah dialog publik di Desa Towara yang meminta para pengepul untuk tidak lagi memasok buah kelapa ke PT NICO dan kembali fokus mengolah kelapa menjadi kopra.
Namun, menurutnya, pilihan tersebut memiliki konsekuensi besar terhadap harga beli di tingkat petani.
Ia menegaskan, apabila para pengepul dipaksa kembali sepenuhnya ke bisnis kopra, maka harga pembelian buah kelapa dari petani kemungkinan harus ditekan karena tingginya biaya produksi.
“Malam itu ada yang menyuruh kami para pengepul untuk tidak menyuplai buah kelapa ke PT NICO dan dibuat kopra saja. Kami bisa saja, tetapi harga beli di petani mungkin hanya sekitar Rp1.300 per buah,”terangnya.
Menurut Rikson, pengolahan kopra membutuhkan proses panjang dan biaya yang tidak sedikit.
“Kalau dibuat kopra, pekerjaannya banyak. Mulai dari belah, cungkel sampai diasapi. Itu membutuhkan waktu dan biaya besar. Sementara kalau menjual buah ke NICO, prosesnya sangat simpel. Harga yang kami beli dari petani juga mulai Rp1.700 sampai Rp1.800 per buah,”katanya.
Saat ini, aktivitas pemasokan buah kelapa yang dijalankan Rikson terus meningkat. Dalam satu bulan, ia mengaku mampu menyuplai sekitar 70 ribu hingga 80 ribu buah kelapa ke PT NICO.
Dalam sehari, sedikitnya tiga hingga empat mobil dikerahkan untuk mengangkut buah kelapa dari para petani dan pengepul menuju perusahaan.
“Dalam satu hari, mobil yang saya pesan untuk memuat buah kelapa bisa tiga sampai empat mobil,”ungkapnya.
Bagi Rikson, kehadiran PT NICO telah membuka jalur pasar baru bagi petani dan pengepul kelapa di wilayah Galela Barat. Ia menilai, sistem penjualan buah secara langsung telah membuat aktivitas ekonomi petani menjadi lebih sederhana dibandingkan ketika mereka harus mengolah kelapa menjadi kopra.
“Kita harus bersyukur dengan kehadiran PT NICO ini karena petani juga merasa senang. Sekarang pekerjaan kelapa tidak serumit dulu. Tinggal panen, kumpul, jual dan langsung terima uang,”pungkasnya.(red)

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !