Kilasmalut — Pelibatan anak-anak dalam aksi demonstrasi di kawasan Kawasi mendapat sorotan dari Direktur Pusaka Publik, Tahirun Mubin. Ia menilai anak tidak semestinya dibawa dalam situasi aksi yang merupakan persoalan orang dewasa.
Tahiruni mengatakan dirinya juga pernah turun melakukan aksi untuk menyuarakan kepentingan masyarakat. Namun, menurutnya, membawa anak dalam kegiatan demonstrasi merupakan hal yang kurang tepat.
“Saya juga beraksi untuk masyarakat. Tetapi menurut saya kurang pantas membawa anak-anak dalam situasi seperti ini. Anak kecil bukan alat mobilisasi, bukan simbol tekanan, dan bukan tameng untuk kepentingan orang dewasa,” ujar Tahirun. Ia menambahkan bahwa jangan hanya karena untuk menambah jumlah massa, anak-anak sampai harus dilibatkan.
Tahirun juga menyoroti aksi yang mempersoalkan persoalan sampah di Kawasi. Menurutnya, terdapat kontradiksi ketika pelayanan sampah dipersoalkan, sementara sebelumnya terdapat oknum warga yang meminta kendaraan pengangkut sampah tidak masuk ke kawasan tersebut.
“Ini juga yang perlu dipertanyakan. Mereka melakukan aksi dan mempersoalkan sampah, tetapi ada oknum warga yang sebelumnya meminta truk sampah tidak masuk. Akhirnya pelayanan sampah terhenti dan masyarakat lainnya yang dirugikan,” katanya.
Sebelumnya, Harita Nickel menyampaikan kepada Pemerintah Desa Kawasi bahwa pengangkutan sampah di permukiman lama terhenti sementara setelah adanya pembatasan akses pada jalur yang digunakan untuk pengangkutan sampah. Perusahaan juga menyebut tim operasional menerima ancaman di lapangan.
Sementara itu, Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara sekaligus Ketua HIMPSI Maluku Utara, Syaiful Bahry, S.Psi., MA, mengatakan anak pada masa tumbuh kembang lebih tepat diarahkan pada kegiatan yang mendukung perkembangan kognitif dan sosial secara positif.
“Anak-anak sebaiknya diarahkan pada kegiatan yang membangun kemampuan mereka, seperti belajar, membaca dan aktivitas positif lainnya. Di Pulau Obi sendiri tersedia ruang belajar dan program literasi yang bisa menjadi wadah bagi anak untuk berkembang secara positif, bukan dibawa ke situasi demonstrasi yang penuh ketegangan,” ujar Syaiful.
Ia menambahkan, paparan terhadap tindakan maupun kata-kata kasar perlu dihindari karena anak dapat menyerap dan meniru lingkungan di sekitarnya. Salah satu program yang dapat menjadi ruang positif bagi anak di Desa Kawasi adalah Rumah Belajar Taman Ceria yang diarahkan untuk memperkuat literasi anak melalui kegiatan belajar dan membaca. Menurut Syaiful, ruang belajar dan kegiatan literasi seperti itu lebih tepat dimanfaatkan untuk membantu anak mengembangkan kemampuan kognitif, sosial, dan emosional secara positif.
Selain itu, demonstrasi merupakan situasi yang dinamis dan sulit diprediksi. Perubahan suasana massa aksi dapat meningkatkan stres pada anak. Anak-anak belum mampu mengatur regulasi emosinya. Sehingga ketika berada di tengah suasana demonstrasi dapat mengakibatkan anak-anak mengalami ketakutan, panik, kebingungan atau tekanan psikologis saat menghadapi suara keras, dorong-dorongan, atau benturan antara massa aksi.
“Untuk itu secara pribadi saya menyarankan demi keselamatan anak-anak, mohon orang tua tidak melibatkan anak dalam aksi demonstrasi. Aspirasi boleh diperjuangkan,tetapi keselamatan dan kepentingan terbaik anak harus menjadi prioritas,” pungkas Syaiful.
Tahirun pun mengingatkan agar kepentingan orang dewasa tidak membuat anak ikut menanggung risiko dari persoalan yang sedang diperjuangkan. “Menyampaikan aspirasi silakan. Tetapi jangan sampai anak-anak ikut menjadi bagian dari konflik atau tekanan orang dewasa,” tutupnya. (tim)
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !