Kilasmalut.com – Langit di atas Gunung Dukono siang itu seperti kehilangan warna. Abu vulkanik menutup cahaya matahari, menggantung pekat di udara, sementara dentuman dari perut gunung terus terdengar seperti suara kematian yang datang berulang kali.
Batu-batu pijar beterbangan tanpa arah di sekitar kawah, memaksa siapa pun yang berada di sana mempertaruhkan nyawa setiap detik.
Di tengah situasi mengerikan itu, dua pemuda Desa Mamuya, Kecamatan Galela Kei dan Tamim memilih tetap mendaki menuju lereng Dukono demi mencari para pendaki yang hilang akibat erupsi, Sabtu (9/5).

Tak ada kepastian mereka akan kembali hidup.
Namun di antara hujan abu, bau belerang menyengat, dan ancaman letusan susulan, keduanya justru menjadi orang pertama yang menemukan jasad Angel, salah satu korban yang sebelumnya dinyatakan hilang di sekitar kawah Gunung Dukono.
Kei masih mengingat jelas momen memilukan itu.
Saat berjalan perlahan di lereng bawah kawah, matanya menangkap benda putih samar di kejauhan. Dari jarak sekitar 20 meter, benda itu nyaris tak dikenali karena tertutup abu dan dikelilingi batu-batu panas.
“Dari bawah kami lihat putih sekali. Kami sempat berdebat, itu batu atau apa,”ucap Kei lirih.
Rasa takut sebenarnya sudah menyelimuti mereka sejak awal. Namun rasa penasaran dan harapan bahwa mungkin masih ada korban yang bisa diselamatkan membuat keduanya terus melangkah mendekat.
Setiap pijakan terasa berat. Setiap dentuman dari kawah membuat jantung mereka berdegup lebih keras.
Semakin dekat, suasana justru semakin sunyi dan mencekam.
“Pas sekitar lima meter, saya lihat sepatu. Di situ kami mulai yakin kalau itu salah satu korban,”katanya.
Kalimat itu seketika mematahkan harapan mereka.
Di hadapan Kei dan Tamim, tubuh Angel terbujur dalam kondisi mengenaskan sekitar 20 meter di bawah mulut kawah. Sebagian tubuh korban tertimbun material vulkanik, sementara batu besar menghantam bagian kepala korban.
“Posisinya tertimpa batu. Yang terlihat cuma baju, kaki, dan setengah badan,”ungkap Kei dengan suara bergetar.
Di tengah lereng maut itu, hanya ada mereka berdua.
Tak ada tim lain. Tak ada suara manusia lain selain gemuruh Dukono yang terus mengamuk.
“Di situ cuma kami berdua. Tidak ada orang lain. Kami orang pertama,”katanya.
Meski ketakutan, Kei dan Tamim tetap mencoba mendekat untuk melakukan evakuasi awal. Mereka sadar, tubuh korban tak mungkin dibiarkan sendirian di tengah hujan abu dan batu vulkanik.
Namun ketika jarak mereka tinggal sekitar dua meter dari jasad Angel, Gunung Dukono kembali meledak.
Dentuman keras mengguncang lereng gunung.
Material vulkanik dimuntahkan ke udara. Batu-batu panas berjatuhan dari atas kawah.
“Erupsi dan meledak lagi. Kami langsung lari jauh sekali,”ucapnya.
Dalam kepanikan itu, mereka melihat drone pemantau milik tim SAR gabungan melintas di udara. Kei dan Tamim berteriak sambil memberi isyarat agar drone mendekat ke titik lokasi korban.
“Saat lihat drone kami kasih kode supaya mendekat. Tapi kami sudah yakin itu orang,”bebernya.
Tak lama kemudian, tim SAR gabungan akhirnya naik membawa kantong jenazah. Namun proses evakuasi berlangsung dramatis dan penuh kepanikan.
Abu terus turun seperti hujan. Batu vulkanik beterbangan di atas kepala mereka.
Sementara tubuh Angel perlahan diangkat dari timbunan material vulkanik.
“Evakuasi pertama kami lakukan sambil batu-batu terbang. Badannya juga sudah tertimbun batu dan abu vulkanik,”jelasnya.
Suasana mendadak hening ketika jenazah dimasukkan ke dalam kantong. Beberapa anggota tim SAR tak kuasa menahan emosi melihat kondisi korban yang begitu mengenaskan.
“Saat dimasukkan ke kantong, tulang tengkoraknya sudah hancur,”ungkap Kei pelan.
Namun penderitaan di lereng Dukono rupanya belum benar-benar selesai.
Kei mengaku masih melihat satu tumpukan mencurigakan sekitar tiga meter di atas lokasi ditemukannya Angel. Bentuknya tertutup abu dan batu vulkanik. Tidak ada yang tahu apakah itu hanya bongkahan batu atau tubuh korban lain yang belum sempat dievakuasi.
Cuaca yang semakin buruk membuat tim terpaksa mundur.
“Di atas Angel sekitar tiga meter ada tumpukan. Tapi kami belum bisa pastikan apakah batu atau jenazah. Kantong jenazah cuma dua, sementara hujan abu dan batu masih berterbangan,”tuturnya.
Di lereng Dukono yang terus mengamuk, duka belum benar-benar selesai. Dan bagi Kei serta Tamim, suara dentuman gunung itu mungkin akan terus tinggal dalam ingatan mereka seumur hidup.(red)
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !