
Kilasmalut.com – Alarm keras bagi Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara (Halut) akhirnya berbunyi nyaring. Sejumlah warga Dusun Akelamo Kao, Kecamatan Kao Teluk, memilih angkat kaki dan resmi memindahkan status kependudukan mereka ke Kabupaten Halmahera Barat (Halbar).
Langkah drastis ini bukan tanpa alasan. Warga menilai pelayanan pemerintahan diabaikan, sementara janji manis pemekaran desa yang pernah digembar-gemborkan justru tak kunjung ditepati. Kekecewaan yang menumpuk kini berubah menjadi tindakan nyata, pergi meninggalkan Halut.
Selama ini, Dusun Akelamo Kao masih berstatus bagian dari Desa Akelamo Cibok. Ironisnya, meski Dana Desa disebut dibagi dua, pusat kendali pemerintahan tetap berada di Cibok. Kondisi ini dinilai warga sebagai bentuk ketimpangan pelayanan dan ketidakadilan administratif yang dibiarkan berlarut-larut.
Camat Kao Teluk, Muhlis Ternate, membenarkan adanya perpindahan tersebut. Ia menyebut alasan utama warga adalah kekecewaan terhadap janji pemekaran yang tak terealisasi serta minimnya pelayanan pemerintah.
“Iya benar ada warga yang pindah ke Halbar. Mereka beralasan tidak ada pelayanan dan janji pemekaran belum ditepati. Tapi kami di kecamatan tetap melayani,”ujarnya, Kamis (16/4).
Namun, pernyataan itu tak cukup meredam sorotan. Di tengah fakta warga memilih hengkang, klaim “pelayanan tetap berjalan” justru dipertanyakan, jika pelayanan optimal, mengapa warga memilih pergi.
Muhlis juga meminta agar persoalan ini tidak “dibesar-besarkan”, dengan dalih tidak semua warga ikut pindah. Ia menegaskan bahwa Akelamo Kao tetap merupakan bagian sah wilayah Halut.
“Kalau ada yang mau pindah itu hak mereka, tapi jangan digeneralisasi. Akelamo Kao tetap wilayah Halut,”tegasnya.
Di sisi lain, isu ini makin memanas dengan munculnya dugaan provokasi melalui narasi “orang tua-tua pangge pulang” yang disebut sebagai upaya menggiring opini publik. Pemerintah kecamatan bahkan mengancam akan melaporkan pihak-pihak yang dianggap memainkan isu.
“Kalau ada provokator, kami akan laporkan. Jangan memanfaatkan masyarakat untuk kepentingan pribadi,”cetusnya.
Meski begitu, publik kini menunggu lebih dari sekadar klarifikasi. Eksodus warga adalah sinyal keras bahwa ada persoalan serius yang tak bisa lagi ditutup-tutupi. Ketika janji tak ditepati dan pelayanan dipertanyakan, kepercayaan masyarakat pun runtuh.
Dan ketika kepercayaan runtuh, yang terjadi bukan sekadar keluhan melainkan perpindahan.(red)
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !