160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT

Eco Bhinneka Gelar ToT Pengelolaan Sampah, Dorong Perempuan Dan Pemuda Jadi Penggerak Lingkungan

Eco Bhinneka Muhammadiyah Maluku Utara menggelar Training of Trainers di Halsel.(istimewa)

Kilasmalut.com – Persoalan sampah di Halmahera Selatan (Halsel) tak bisa lagi dipandang sebatas urusan kebersihan. Dari rumah tangga hingga pesisir dan laut, sampah telah menjadi persoalan lingkungan yang membutuhkan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat.

Merespons tantangan tersebut, Eco Bhinneka Muhammadiyah Maluku Utara menggelar Training of Trainers (ToT) “Eco-Literasi dan Aksi Komunitas melalui Pengelolaan Sampah Berbasis Rumah Tangga” di Desa Sabatang, Kecamatan Bacan Timur, Kabupaten Halmahera Selatan, Rabu (19/8).

Kegiatan ini diikuti kelompok PKK Wayamiga, Nyoyifi, Babang, Sayoang, dan Sabatang. ToT tersebut diarahkan untuk memperkuat pengetahuan sekaligus keterampilan masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari rumah, sekaligus mencetak kader lingkungan yang mampu menjadi penggerak perubahan di desa masing-masing.

Sejumlah unsur turut hadir, di antaranya Kepala Dinas Pendidikan, Ketua Tim Penggerak PKK, Camat Bacan Timur Niar Barakati, S.H., Kepala Desa Sabatang, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, serta kelompok PKK. Sementara Barisan Cinta Lingkungan (BCL) dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Halmahera Selatan hadir sebagai narasumber.

Peserta tidak hanya dibekali teori. Mereka juga mengikuti praktik mengenai pemilahan sampah, pengelolaan sampah rumah tangga, pemanfaatan kembali barang bekas hingga daur ulang, serta pentingnya membangun kolaborasi masyarakat dalam menjaga lingkungan.

Sampah dari Rumah Bisa Berujung ke Laut

Mewakili Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, Dinul Qoyimah menegaskan bahwa persoalan sampah memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada sekadar lingkungan yang terlihat kotor.

Menurutnya, sampah yang dihasilkan dari rumah dapat berakhir di sungai, pesisir hingga laut dan pada akhirnya mengancam kesehatan, ekosistem, sumber penghidupan masyarakat serta masa depan generasi berikutnya.

“Kita sedang berbicara tentang kehidupan. Sampah yang kita hasilkan di rumah dapat berakhir di lingkungan, sungai, pesisir, bahkan laut. Dampaknya bukan hanya terhadap kebersihan, tetapi juga kesehatan, ekosistem, sumber penghidupan, dan masa depan anak-anak kita,”ujar Dinul.

Ia menekankan bahwa perubahan tidak harus menunggu kebijakan besar. Gerakan lingkungan justru harus dimulai dari rumah dan dilakukan secara konsisten.

Baca Juga :  Patroli KRYD Polsek Kao Berhasil Sita Miras Jenis Cap Tikus

Perempuan dan pemuda, kata Dinul, memiliki posisi strategis untuk menjadi penggerak perubahan di tengah masyarakat.

Ia juga menjelaskan bahwa eco-literasi bukan sekadar memahami jenis dan definisi sampah, tetapi menyadari hubungan antara pola konsumsi, barang yang dibuang, kondisi lingkungan, perubahan iklim dan keberlangsungan kehidupan manusia.

“Jangan sampai setelah mengikuti ToT, kita pulang membawa sertifikat tetapi tidak membawa perubahan. Pulanglah membawa pengetahuan, keterampilan, dan terutama komitmen untuk melakukan sesuatu. Mulailah dari rumah,”tegasnya.

Dinul berharap para peserta mampu menjadi kader lingkungan yang menggerakkan keluarga, kelompok keagamaan, pemuda dan masyarakat untuk melakukan aksi nyata secara bersama-sama.

“Bumi adalah rumah bersama. Karena itu, menjaga bumi juga merupakan tanggung jawab bersama,”katanya.

Sabatang Pernah Jadi Juara Pengelolaan Sampah

Camat Bacan Timur, Niar Barakati, S.H., mengapresiasi pelaksanaan ToT di Desa Sabatang. Ia menilai masyarakat, khususnya kelompok PKK, telah menunjukkan kreativitas dalam mengubah barang yang sebelumnya dianggap tidak berguna menjadi produk bernilai.

“Di depan kita ini sampah-sampah yang kita buang dimanfaatkan oleh ibu-ibu PKK menjadi maha karya. Ini sangat luar biasa,”ujar Niar.

Ia menyebut Kecamatan Bacan Timur memiliki 10 desa, sementara Sabatang memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan sampah.

Bahkan, Desa Sabatang pernah meraih juara pertama dan mewakili Maluku Utara dalam ajang pengelolaan sampah pada 2022.

Pengalaman tersebut, menurut Niar, menjadi modal penting untuk terus memperkuat gerakan pengelolaan sampah sekaligus mendorong Sabatang menjadi contoh bagi desa-desa lainnya.

PKK dan Pemuda Jadi Kekuatan Gerakan Lingkungan

Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Halmahera Selatan, Rifa’at Al-Sa’adah, turut memberikan apresiasi terhadap konsistensi Eco Bhinneka Muhammadiyah dalam menghadirkan kegiatan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan Eco Bhinneka Muhammadiyah karena setiap tahun mengagendakan kegiatan yang insyaallah bermanfaat dan membahagiakan bagi kita semua,”ungkapnya.

Ia juga menyoroti keterlibatan pemuda dalam kegiatan sosial dan pembangunan daerah.

Menurutnya, keberadaan anak-anak muda yang peduli terhadap lingkungan dan daerah merupakan modal penting bagi masa depan Halmahera Selatan.

Baca Juga :  Kolaborasi Pertamina, BPBD Dan FPRB, Dorong Sekolah Di Kota Ternate Jadi Benteng Mitigasi Bencana

“Mereka adalah anak-anak muda yang peduli. Di sekitar kita masih ada anak-anak muda yang aktif membangun daerahnya. Insyaallah akan semakin cerah seperti matahari pada pagi hari ini,”ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Halmahera Selatan, Husain Mustofa, menegaskan bahwa persoalan sampah tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah.

“Persoalan sampah ini bukan persoalan sendiri atau persoalan pemerintah, akan tetapi persoalan kita bersama,”tegas Husain.

Ia mengatakan pemerintah telah mengerahkan tenaga dan waktu untuk menangani persoalan sampah di Bumi Saruma. Namun, tanpa keterlibatan masyarakat, upaya tersebut tidak akan berjalan maksimal.

Karena itu, ia menilai kegiatan ToT menjadi penting untuk memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan sampah rumah tangga.

“Kami mengharapkan kolaborasi agar bagaimana kita dapat mengelola sampah ini dengan baik dan benar. Sampah yang tadi sudah dibuang dapat didaur ulang sehingga dapat bernilai,”katanya.

Dari Sampah Menjadi Gerakan dan Nilai Ekonomi

Melalui kegiatan tersebut, Eco Bhinneka Muhammadiyah mendorong peserta tidak berhenti pada pengetahuan. Mereka diharapkan mampu membawa praktik pengelolaan sampah ke lingkungan masing-masing.

Peserta didorong mengajak masyarakat memilah sampah sejak dari rumah, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, memanfaatkan kembali barang bekas dan mengembangkan kegiatan daur ulang yang memiliki nilai ekonomi.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari semangat SMILE (Strengthening Multifaith Initiative Leader on Climate Justice through Ecofeminism) yang mendorong kepemimpinan perempuan, pemuda dan masyarakat lintas iman dalam menjaga lingkungan sekaligus memperkuat keadilan iklim.

Kolaborasi antara pemerintah daerah, Eco Bhinneka Muhammadiyah, BCL, Dinas Lingkungan Hidup, PKK, tokoh agama, pemuda dan masyarakat diharapkan mampu melahirkan gerakan pengelolaan sampah yang lebih konsisten dan berkelanjutan di Halmahera Selatan. Sebab, perubahan besar tidak selalu dimulai dari kebijakan besar.

Ia bisa dimulai dari rumah, dari desa, dari tangan perempuan dan pemuda, serta dari kebiasaan kecil untuk tidak lagi memperlakukan sampah sebagai masalah yang dibuang begitu saja.(red)

You might also like
Lorem Ipsum Dolor Amet?

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor

Promo Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !
error: Content is protected !!