
Kilasmalut.com – Sebuah papan proyek berdiri tegak di tepian jalan rusak menuju Pasar Rawajaya, Kecamatan Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara, tepat di belakang Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Papan itu mencantumkan proyek Peningkatan Struktur Jalan Dalam Kota Tobelo dengan nilai kontrak fantastis mencapai Rp. 2.440.000.000.
Namun hingga awal Maret 2026, proyek bernilai miliaran rupiah itu justru terlihat seperti ditinggalkan tanpa kepastian. Di lokasi hanya tampak beberapa alat berat yang sudah usang terparkir tanpa aktivitas, sementara pekerjaan fisik nyaris tak terlihat.
Dari hasil pantauan media ini, proyek dengan nomor kontrak 05/SP/BM/2025 tertanggal 15 November 2025 tersebut dikerjakan oleh CV. Brinoa Perkasa menggunakan sumber dana APBD/DAU. Secara logika waktu pelaksanaan, proyek ini seharusnya sudah menunjukkan progres signifikan, bahkan mendekati penyelesaian. Namun fakta di lapangan justru memantik tanda tanya besar dari masyarakat.
“Sudah hampir sebulan tidak ada pekerjaan. Kami bingung, proyek miliaran rupiah tapi kondisi di lapangan seperti ini. Di papan proyek juga tidak dicantumkan berapa lama masa pekerjaan,”ungkap Nasrun, warga Rawajaya Tobelo, Kamis (5/3).
Menurutnya, proyek tersebut bukan sekadar pembangunan fisik semata, melainkan urat nadi akses masyarakat menuju Pasar Rawajaya yang setiap hari dilalui warga.
“Setiap hari warga lewat situ untuk ke pasar. Sekarang banyak batu kerikil berserakan di jalan, itu sangat berbahaya dan bisa menyebabkan kecelakaan,”ujarnya.
Nasrun juga menyoroti minimnya pengawasan dari pemerintah daerah maupun DPRD Halmahera Utara terhadap proyek yang menggunakan uang rakyat tersebut. Ia menilai lemahnya kontrol lapangan membuka ruang bagi proyek berjalan asal-asalan bahkan berpotensi mangkrak.
Ia menegaskan bahwa pemerintah harus segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kontraktor pelaksana dan konsultan pengawas.
“Kalau kontraktornya tidak mampu bekerja, seharusnya jangan dipilih dari awal. Jangan sampai masyarakat yang akhirnya jadi korban,”tegasnya.
Kekecewaan warga pun kian memuncak. Masyarakat Rawajaya menyatakan akan terus memantau perkembangan proyek tersebut. Jika dalam beberapa hari ke depan tidak ada aktivitas pekerjaan yang jelas, warga berencana melayangkan protes terbuka kepada DPRD dan Bupati Halmahera Utara.
“Jangan anggap remeh. Jalan itu bukan sekadar batu dan aspal. Di situ ada kehidupan masyarakat,”tandas Nasrun dengan nada geram. (red)
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !