160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT

Laut Di Teluk Buli Berubah Keruh Pekat, Sungai Kukuba Diduga Jadi Jalur Limbah Tambang, PM Malut Desak GM PT. Antam Dicopot

Ketua Poros Muda Malut, Siraj Naufal

Kilasmalut.com – Kondisi Ekosistem di teluk Buli dan sungai kukuba di Halmahera Timur, Maluku Utara kini berada diambang krisis lingkungan serius. Berdasarkan pantauan dilapangan dan dokumentasi warga, perairan di teluk Buli tampak berubah keruh pekat, akibat sendimentasi lumpur yang diduga kuat berasal dari aliran sungai kukuba.

Situasi ini memicu kemarahan warga di Kecamatan Maba yang mulai merasakan langsung dampak kerusakan lingkungan di wilayah mereka.

Ketua Poros Muda Maluku Utata, Siraj Naufal, menyampaikan kecaman keras dan mendesak pencopotan General Manager PT. Antam Maluku Utara, sebagai bentuk pertanggungjawaban atas dugaan kegagalan pengawasan aktivitas pertambangan dikawasan tersebut.

“Kerusakan teluk Buli dan sungai kukuba bukan lagi persoalan biasa ini alarm darurat lingkungan hidup di Haltim. Kami meminta GM PT. Antam Malut segera dicopot karena dinilai gagal mengendalikan dampak aktivitas tambang,”tegas Siraj, pada Kamis (7/5).

Poros Muda Malut juga mendesak Kementerian lingkungan hidup dan Kementerian ESDM untuk turun tangan mengevaluasi seluruh izin operasi perusahaan tambang di sekitar kawasan terdampak, termasuk anak perusahaan yang berada di bawah naungan PT. Antam dan beroperasi di sekitar aliran sungai kukuba.

Baca Juga :  Wujudkan Operasional Aman Dan Efektif, NHM Gelar Diklat Juru Ledak Il Di Site Gosowong

Tak hanya itu, PM Malut meminta penghentian sementara seluruh aktivitas pertambangan yang diduga berkontribusi terhadap pencemaran perairan sampai ada langkah rehabilitasi lingkungan yang nyata dan terukur.

Menurutnya, kerusakan ekologis yang terjadi bukan sekedar akibat karena faktor alam, melainkan dampak eksploitasi tambang yang diduga mengabaikan kaidah lingkungan dan keselamatan ekosistem pesisir.

“Perusahaan tambang yang beroperasi di wilayah tersebut mayoritas terhubung dengan PT. Antam. Karena itu kami tegaskan, copot GM PT. Antam Malut adalah harga mati,”tegasnya.

Ia juga menyoroti dampak sosial yang mulai dirasakan masyarakat pesisir. Menurutnya, eksploitasi sumber daya alam secara brutal hanya menguntungkan pemilik modal dan elit tertentu, sementara masyarakat lokal dipaksa menanggung kerusakan lingkungan, ancaman terhadap sumber mata pencaharian, hingga berpotensi bencana ekologis jangak panjang.

Baca Juga :  Harita Nickel Luncurkan Mechanic Talent Pool Program bagi Pemuda Lokal

“Eksploitasi yang merusak lingkungan hanya menguntungkan inverstor besar dan segelintir elit. Sementara masyarakat lokal dijadikan korban dari kehancuran sosial dan ekologus,”ungkapnya.

Sebagai langkah lanjutan, Poros Muda Malut menyatakan akan menggelar aksi demonstrasi di kantor pusat PT. Feni dan Kementerian ESDM, sekaligus melaporkan dugaan pencemaran lingkungan tersebut ke Kementerian Lingkungan Hidup serta meminta evaluasi teknis terhadap izin dan aktivitas pertambangan yang beroperasi di kawasan terluk Buli dan sungai kukuba .

PM Malut menegaskan, kerusakan di teluk Buli dan sungai kukuba menjadi bukti nyata lemahnya komitmen perusahaan tambang terhadap perlindungan lingkungan di Malut, mereka menilai pencopotan pucuk pimpinan PT. Antam Malut merupakan simbol keseriusan untuk menghentikan laju kehancuran ekosustem di Haltim sebelum situasi berubah menajdi bencana.(red)

 

You might also like
Lorem Ipsum Dolor Amet?

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor

Promo Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !