Kilasmalut.com – Tiga warga yang sedang beraktivitas di kawasan perkebunan Dusun III, Desa Mesa, Kecamatan Weda Timur, Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng), diduga nyaris diserang orang tidak dikenal (OTK) yang muncul dari arah hutan, Rabu (30/9) sore.
Ketiga warga tersebut masing-masing Erdi Cino (58), Saul Tukur (57), dan Jansen Cino (36). Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 17.00 WIT saat ketiganya berada di kawasan kebun.
Menurut keterangan warga, Jansen pertama kali melihat seorang laki-laki muncul dari arah hutan dengan kondisi tanpa mengenakan pakaian, menggunakan kain merah sebagai ikat kepala dan kain berwarna cokelat sebagai penutup tubuh bagian bawah. Pria tersebut juga disebut memiliki rambut panjang sebahu.
Jansen kemudian memberitahukan keberadaan orang tersebut kepada Erdi dan Saul. Tak lama berselang, OTK itu diduga bergerak mendekati ketiganya sambil membawa busur dan anak panah.
Situasi berubah tegang ketika Saul berteriak. OTK tersebut kemudian berbalik dan melarikan diri ke arah hutan.
Ketiga warga memilih meninggalkan lokasi dan kembali ke kampung. Mereka selanjutnya melaporkan kejadian tersebut kepada pemerintah desa dan anggota Pos Polisi Weda Timur.
Laporan itu langsung ditindaklanjuti aparat. Pada Kamis (1/10) sekitar pukul 10.00 Wit, personel Pos Polisi Weda Timur bersama pemerintah Desa Kotalo dan sejumlah masyarakat mendatangi lokasi untuk melakukan pemeriksaan serta penyisiran.
Hasil pengecekan di lokasi menemukan empat benda yang diduga merupakan ranjau sederhana berbahan sejenis bambu.
Selain temuan tersebut, warga juga melaporkan kehilangan sejumlah barang yang sebelumnya berada di lokasi, yakni dua buah parang dan satu tas yang berisi telepon seluler.
Polisi kini masih melakukan pendalaman untuk mengungkap identitas OTK, termasuk menelusuri kemungkinan adanya keterkaitan dengan kelompok yang sebelumnya menjadi perhatian aparat dalam penyelidikan kasus meninggalnya Ali Daud di kawasan hutan Halmahera.
Ciri-ciri orang yang dilihat ketiga warga turut menjadi bahan pendalaman aparat. Namun, hingga kini belum ada kepastian bahwa OTK tersebut memiliki hubungan dengan kelompok tertentu maupun dengan kasus sebelumnya.
Kapolres Halmahera Tengah AKBP Fiat Dedawanto, S.Pd.T., S.I.K., M.H., mengatakan jajarannya telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), pemeriksaan lokasi, pengumpulan barang bukti, pencarian jejak, serta meminta keterangan dari sejumlah saksi.
Kapolres juga meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan ketika beraktivitas di kawasan perkebunan, khususnya agar tidak pergi seorang diri.
“Kami mengimbau masyarakat jangan terpancing atau terprovokasi atas kejadian tersebut. Bila ada kejadian serupa, segera melaporkan ke Kepolisian terdekat,”tegasnya, Kamis (1/10).
Polda Maluku Utara turut mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak panik. Warga diminta tidak menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi karena berpotensi memicu keresahan di tengah masyarakat.
Masyarakat yang memiliki aktivitas di kawasan perkebunan juga diminta meningkatkan kewaspadaan dan untuk sementara menghindari pergi ke kebun seorang diri.
Kepolisian bersama pemerintah desa akan terus melakukan pemantauan serta langkah-langkah pengamanan di sekitar lokasi guna memastikan aktivitas masyarakat tetap berlangsung dengan aman.
Warga yang mengetahui keberadaan atau memiliki informasi mengenai OTK tersebut diminta segera melapor kepada aparat kepolisian terdekat dan tidak mengambil tindakan sendiri yang dapat membahayakan keselamatan.(red)
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !