Kilasmalut.com – Asap tebal mulai mengepung pusat Kota Tobelo dan kawasan perkantoran Kabupaten Halmahera Utara (Halut), Kamis (8/10). Kabut asap yang diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat jarak pandang warga menurun dan aktivitas masyarakat mulai terganggu.
Kondisi tersebut terjadi di tengah kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah Halut. Lahan yang mengering membuat titik-titik kebakaran bermunculan dan asapnya terbawa hingga ke kawasan perkotaan.
Sejumlah warga mengeluhkan kondisi tersebut karena asap mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Kekhawatiran juga meningkat terhadap dampaknya bagi kesehatan, terutama anak-anak yang lebih rentan terhadap gangguan pernapasan akibat paparan asap.
“Untuk hari ini, jarak pandang 100 sampai 200 meter itu sudah menurun. Sehingga kita sudah tidak saling melihat lagi, jika jaraknya sudah jauh,”ucap Supriadi, salah satu warga Tobelo.
Pantauan media ini di pusat Kota Tobelo menunjukkan aktivitas masyarakat masih berjalan. Namun, kabut asap terlihat menyelimuti sejumlah kawasan, terutama di sekitar pusat kota dan area perkantoran.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena berdarkan data Kepolisian Daerah (Polda) Maluku Utara mencatat terdapat 186 kejadian karhutla yang tersebar di 10 kabupaten/kota, dengan total luas lahan terbakar mencapai sekitar 339,33 hektare.
Kepala Biro Operasi (Karo Ops) Polda Maluku Utara, Kombes Pol. Teguh Kariyadi, mengatakan tingginya angka karhutla dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari cuaca ekstrem dan panas berkepanjangan hingga aktivitas masyarakat, seperti pembakaran sampah maupun lahan.
Dari data tersebut, Halmahera Utara menjadi daerah dengan jumlah kejadian karhutla terbanyak di Maluku Utara, yakni mencapai 49 kejadian yang tersebar di 49 desa.
Luas lahan yang terbakar di wilayah Halut juga terbilang signifikan, mencapai sekitar 150,67 hektare.
Angka tersebut menempatkan Halut sebagai salah satu wilayah yang paling terdampak karhutla di tengah kondisi kemarau berkepanjangan. Kepungan asap di pusat Kota Tobelo menjadi gambaran nyata bahwa kebakaran lahan tidak lagi hanya berdampak pada kawasan terbuka, tetapi mulai merembet ke ruang aktivitas masyarakat.
Jika kondisi kering terus berlangsung dan kebakaran tidak segera dikendalikan, ancaman asap serta dampaknya terhadap kesehatan dan aktivitas warga berpotensi semakin meluas.(red)
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !