Oleh: Devid Marthin
Presiden Pemuda Halmahera Utara
Tulisan Sudarmin Palaema yang memberikan apresiasi kepada Bupati Halmahera Utara karena pertumbuhan ekonomi mencapai 11,05 persen patut dihargai sebagai bagian dari diskursus pembangunan daerah. Pemerintah tentu layak mendapatkan apresiasi ketika terdapat indikator ekonomi yang menunjukkan perbaikan.
Namun, dalam membaca sebuah angka statistik, apresiasi tidak boleh mendahului analisis.
Saya tidak sedang mempersoalkan angka 11,05 persen. Yang perlu dikritisi adalah cara angka tersebut diterjemahkan menjadi kesimpulan tentang keberhasilan pemerintahan.
Dalam statistik ekonomi, periode pengukuran merupakan hal yang sangat fundamental. Apabila angka 11,05 persen tersebut merupakan pertumbuhan ekonomi Triwulan II 2026 secara year-on-year (yoy), maka angka tersebut berarti pertumbuhan ekonomi Triwulan II 2026 dibandingkan Triwulan II 2025.
Angka tersebut bukan berarti ekonomi Halmahera Utara sepanjang tahun 2026 telah tumbuh 11,05 persen.
Perbedaan ini bukan persoalan istilah. Ini persoalan metodologi.
Sebab tahun 2026 sendiri belum selesai. Masih terdapat Triwulan III dan Triwulan IV yang akan menentukan bagaimana kinerja ekonomi Halmahera Utara secara keseluruhan pada 2026.
Karena itu, angka Triwulan II tidak seharusnya diperlakukan sebagai angka pertumbuhan tahunan 2026.
Jangan Menilai Ekonomi Hanya dari Satu Angka
BPS mencatat ekonomi Halmahera Utara pada 2023 tumbuh 0,92 persen dan pada 2024 tumbuh 1,85 persen secara year-on-year. Artinya, ketika muncul angka pertumbuhan 11,05 persen pada periode tertentu di 2026, angka tersebut harus ditempatkan dalam sebuah time series, bukan berdiri sendiri.
Pertanyaan yang seharusnya muncul adalah:
Bagaimana grafik pertumbuhan ekonomi Halmahera Utara dari tahun ke tahun?
Bagaimana pertumbuhan setiap triwulan?
Bagaimana pertumbuhan secara yoy?
Bagaimana pertumbuhan secara q-to-q?
Bagaimana pertumbuhan secara kumulatif atau c-to-c?
Dan yang paling penting, sektor apa yang sebenarnya menjadi sumber pertumbuhan tersebut?
Tanpa informasi tersebut, publik hanya diberikan sebuah angka tanpa konteks.
Padahal, angka statistik akan kehilangan sebagian maknanya apabila tidak dijelaskan periode, basis pembanding, metodologi, serta struktur yang membentuk angka tersebut.
Pertumbuhan Ekonomi Bukan Rapor Tunggal Kepala Daerah
Pemerintah daerah memang memiliki peran penting dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi melalui pembangunan infrastruktur, kebijakan fiskal daerah, pelayanan publik, investasi, perizinan, belanja pemerintah dan berbagai kebijakan pembangunan lainnya.
Namun pertumbuhan PDRB merupakan hasil interaksi berbagai aktivitas ekonomi.
Ada investasi swasta, ekspor, harga komoditas, produksi pertanian, perikanan, perdagangan, industri pengolahan, pertambangan, konsumsi masyarakat dan berbagai faktor eksternal lainnya.
Karena itu, secara akademis kita harus berhati-hati menarik hubungan sebab-akibat.
Pertumbuhan ekonomi boleh menjadi salah satu indikator keberhasilan pemerintah, tetapi tidak otomatis menjadi bukti tunggal keberhasilan seorang kepala daerah.
Untuk menyatakan bahwa pertumbuhan tersebut merupakan hasil kebijakan pemerintah, harus ada analisis mengenai kontribusi kebijakan tersebut terhadap perubahan ekonomi.
Dengan kata lain, korelasi tidak otomatis berarti kausalitas.
Ini prinsip dasar dalam membaca data.
Dari Mana 11,05 Persen Itu Berasal?
Inilah pertanyaan yang menurut saya jauh lebih penting daripada sekadar memberikan apresiasi.
Jika ekonomi Halmahera Utara tumbuh 11,05 persen, maka publik perlu diperlihatkan struktur pertumbuhannya.
Berapa kontribusi pertanian?
Berapa kontribusi perikanan?
Berapa kontribusi perdagangan?
Berapa kontribusi industri pengolahan?
Berapa kontribusi pertambangan?
Sektor mana yang tumbuh paling tinggi?
Sektor mana yang memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan?
Dan apakah sektor yang menjadi motor pertumbuhan tersebut memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat Halmahera Utara?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan bentuk pesimisme.
Justru sebaliknya.
Itulah bentuk penghormatan terhadap data.
Pertumbuhan Harus Terhubung dengan Kesejahteraan
Kita juga harus membedakan antara pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan kesejahteraan.
PDRB meningkat belum tentu berarti seluruh masyarakat mengalami peningkatan pendapatan dalam proporsi yang sama.
Karena itu, pertumbuhan ekonomi harus dibaca bersama indikator lain:
PDRB per kapita, kemiskinan, pengangguran, ketimpangan, daya beli masyarakat, kesempatan kerja, dan PAD.
Masyarakat tidak hidup dari angka PDRB.
Masyarakat merasakan apakah harga kebutuhan hidup terjangkau, apakah pendapatan keluarga meningkat, apakah tersedia lapangan pekerjaan, apakah petani mendapatkan harga yang layak, apakah nelayan memperoleh penghasilan yang lebih baik, dan apakah pelayanan publik semakin berkualitas.
Maka pertanyaan pembangunan yang paling penting bukan hanya:
“Berapa persen ekonomi tumbuh?”
Tetapi:
“Siapa yang menikmati pertumbuhan tersebut?”
Bagaimana dengan PAD?
Ada satu indikator yang juga sangat penting bagi Halmahera Utara, yaitu Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Pertumbuhan ekonomi daerah dan PAD memang merupakan dua konsep yang berbeda. Tidak setiap aktivitas ekonomi otomatis menjadi PAD.
Tetapi apabila ekonomi tumbuh signifikan, kita tetap perlu melihat bagaimana pertumbuhan tersebut bertransmisi terhadap kapasitas fiskal daerah.
Apakah PAD meningkat?
Apakah basis ekonomi daerah semakin kuat?
Apakah aktivitas ekonomi menciptakan sumber penerimaan baru?
Apakah pemerintah semakin mampu membiayai pelayanan publik tanpa ketergantungan yang terlalu besar terhadap transfer pemerintah pusat?
Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena tujuan akhir pembangunan bukan sekadar menghasilkan angka pertumbuhan, tetapi membangun kapasitas ekonomi dan fiskal daerah yang berkelanjutan.
Jangan Membandingkan Apel dengan Jeruk
Dalam membaca data ekonomi, kita juga harus disiplin membedakan yoy, q-to-q, c-to-c, dan pertumbuhan tahunan.
Yoy membandingkan periode yang sama dengan tahun sebelumnya.
Q-to-q membandingkan satu triwulan dengan triwulan sebelumnya.
C-to-c menunjukkan pertumbuhan kumulatif sampai periode tertentu dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara pertumbuhan tahunan menggambarkan kinerja ekonomi selama satu tahun penuh.
Masing-masing memiliki fungsi analisis yang berbeda.
Karena itu, angka pertumbuhan Triwulan II 2026 tidak boleh begitu saja diperlakukan sebagai angka pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2026.
Jangan membandingkan apel dengan jeruk hanya karena keduanya sama-sama buah.
Begitu pula dengan data ekonomi: sama-sama berbentuk persentase, bukan berarti memiliki makna yang sama.
Kritik Bukan Berarti Anti-Pemerintah
Saya ingin menegaskan bahwa tulisan ini bukan serangan kepada Bupati Halmahera Utara dan bukan pula penolakan terhadap apresiasi yang diberikan Sudarmin Palaema.
Pemerintah adalah mitra masyarakat.
Tetapi masyarakat juga merupakan bagian penting dari mekanisme kontrol terhadap pemerintahan.
Karena itu, kita tidak boleh hanya berada dalam dua kutub: memuji atau mencela.
Kita harus berada pada posisi menguji.
Jika datanya baik, kita apresiasi.
Jika kebijakannya benar, kita dukung.
Jika indikator pembangunan membaik, kita akui.
Tetapi jika sebuah angka digunakan untuk menarik kesimpulan yang terlalu jauh, kita juga harus berani mengingatkan.
Itulah fungsi masyarakat sipil.
Dan bagi pemuda, sikap kritis terhadap data bukan bentuk perlawanan terhadap pemerintah.
Justru merupakan bentuk tanggung jawab terhadap masa depan daerah.
Saya Mengusulkan Data Dibuka Secara Utuh
Jika angka 11,05 persen tersebut benar merupakan pertumbuhan ekonomi Halmahera Utara pada Triwulan II 2026 secara yoy, maka saya kira tidak ada alasan bagi siapa pun untuk takut membedahnya secara terbuka.
Mari tampilkan:
grafik pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun;
pertumbuhan setiap triwulan;
yoy, q-to-q dan c-to-c;
PDRB atas dasar harga konstan;
kontribusi masing-masing sektor ekonomi;
PDRB per kapita;
angka kemiskinan dan pengangguran;
perkembangan PAD;
serta indikator kesejahteraan masyarakat.
Dengan demikian, publik tidak hanya mendapatkan angka 11,05 persen, tetapi memahami cerita di balik 11,05 persen tersebut.
Sebab angka tanpa konteks mudah menjadi narasi.
Sedangkan angka yang disertai sumber, periode, metodologi, pembanding, struktur dan dampak akan menjadi pengetahuan publik.
Penutup
Halmahera Utara membutuhkan optimisme. Kita membutuhkan pemerintah yang bekerja dan masyarakat yang memberikan apresiasi ketika kinerja memang menunjukkan hasil.
Tetapi pada saat yang sama, Halmahera Utara juga membutuhkan tradisi membaca data secara sehat.
Saya menghargai apresiasi Sudarmin Palaema kepada Bupati Halmahera Utara. Namun apresiasi akan jauh lebih bermakna apabila dibangun di atas data yang lengkap, periode pengukuran yang tepat, metodologi yang benar, serta analisis yang mampu menjelaskan hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
11,05 persen adalah angka yang patut diapresiasi, tetapi terlebih dahulu harus dipahami.
Sebab pertumbuhan ekonomi adalah fakta statistik; menyebutnya sebagai keberhasilan pemerintahan adalah sebuah kesimpulan yang membutuhkan pembuktian.
Dan bagi saya, menghormati data berarti tidak memaksa sebuah angka untuk berbicara lebih jauh daripada apa yang sebenarnya dapat dibuktikannya.
Halut membutuhkan optimisme.
Tetapi Halut juga membutuhkan kejujuran statistik.[]
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !