160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT

Farah Dzikrina Dorong Kepemimpinan Perempuan Harus Bangun Sistem, Kaderisasi Dan Gerakan Berkelanjutan

DPP IMM Menggelar DIKSUSWATI Paripurna.(istimewa)

Kilasmalut.com – Koordinator Program SMILE (Sustainable, Multicultural, Inclusive, and Local Empowerment), Farah Dzikrina Adiba, menegaskan bahwa kepemimpinan perempuan tidak boleh berhenti pada jabatan struktural semata, tetapi harus mampu membangun sistem organisasi yang kuat, memperkuat kaderisasi, dan memastikan keberlanjutan gerakan.

Penegasan tersebut disampaikan Farah saat menjadi narasumber dalam Pendidikan Khusus Immawati Paripurna (DIKSUSWATI Paripurna) yang digelar di Pusat Pengembangan Sumber Daya Strategis (PPSD) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Sabtu (27/6).

Mengusung tema “Strategi Kepemimpinan Perempuan dalam Mengawal Isu Berkelanjutan“, Farah mengajak kader-kader Immawati untuk memperkuat kapasitas diri agar mampu menjawab tantangan sosial, lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan yang kian kompleks.

Menurutnya, keberhasilan organisasi sangat bergantung pada proses kaderisasi yang terencana dan berkesinambungan.

“Kaderisasi merupakan fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan gerakan. Organisasi membutuhkan regenerasi yang terencana agar pengetahuan, pengalaman, dan nilai-nilai perjuangan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,”ujarnya.

Farah menilai, salah satu tantangan utama yang masih dihadapi organisasi perempuan, termasuk Immawati, adalah terbatasnya kader yang siap melanjutkan estafet kepemimpinan. Karena itu, diperlukan upaya sistematis untuk membangun ekosistem kaderisasi yang mampu melahirkan pemimpin perempuan yang adaptif, progresif, dan memiliki perspektif pembangunan berkelanjutan.

Baca Juga :  Narkoba Menyusup Lewat Paket, BNNP Malut Libatkan Jasa Pengiriman, 12 Perwakilan Langsung Dites Urine

Selain penguatan kaderisasi, Farah juga menekankan pentingnya membangun sistem organisasi yang mampu mendokumentasikan sekaligus menyebarluaskan praktik-praktik terbaik yang telah dilakukan kader di berbagai daerah.

Menurutnya, setiap pengalaman dan keberhasilan di suatu wilayah harus menjadi pengetahuan kolektif yang dapat dipelajari, dikembangkan, dan direplikasi oleh kader di daerah lain.

“Jangan sampai kegiatan yang sudah dilakukan dengan penuh kerja keras hanya tersimpan dalam laporan. Pengalaman tersebut perlu ditulis, didokumentasikan, dan disebarluaskan agar menjadi inspirasi bagi kader di daerah lain,”katanya.

Dalam pemaparannya, Farah turut mendorong kader Immawati untuk memperkuat aktivisme media melalui penulisan artikel, opini, siaran pers, hingga kampanye digital. Ia menilai media merupakan instrumen strategis dalam memperluas pengaruh gerakan perempuan sekaligus mengangkat isu-isu keadilan sosial, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat ke ruang publik.

Farah juga membagikan pengalaman mengenai berbagai program pemberdayaan yang dijalankan SMILE bersama sejumlah mitra di berbagai daerah. Program tersebut meliputi penguatan literasi lingkungan (ecoliterasi), mitigasi bencana berbasis komunitas, pengelolaan sampah, pemberdayaan ekonomi perempuan, hingga pelatihan jurnalistik lingkungan.

Baca Juga :  20 psychological principles applied to product design

Ia menegaskan bahwa pendekatan yang dibangun SMILE tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan program, tetapi juga pada penciptaan ekosistem gerakan yang berkelanjutan melalui kolaborasi dengan organisasi masyarakat, komunitas, perguruan tinggi, media, dan pemerintah.

Dalam sesi diskusi, peserta DIKSUSWATI Paripurna dibagi ke dalam sejumlah kelompok tematik yang membahas kepemimpinan, aktivisme media, pemberdayaan ekonomi, penguatan sistem organisasi, serta kesetaraan gender dan inklusi sosial. Forum tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk merumuskan gagasan, strategi, dan rencana aksi yang dapat diimplementasikan di wilayah masing-masing.

Di akhir pemaparannya, Farah berharap DIKSUSWATI Paripurna mampu melahirkan kader-kader Immawati yang memiliki kapasitas kepemimpinan, kepekaan sosial, kemampuan advokasi, serta komitmen kuat dalam mengawal agenda pembangunan berkelanjutan.

“Perempuan harus menjadi bagian penting dalam proses perubahan sosial. Kepemimpinan perempuan yang kuat akan melahirkan gerakan yang tidak hanya mampu menjawab tantangan hari ini, tetapi juga mempersiapkan masa depan yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan,”tutupnya.(red)

You might also like
Lorem Ipsum Dolor Amet?

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor

Promo Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !
error: Content is protected !!