Kilasmalut.com – Gelombang kemarahan terhadap dugaan penghinaan terhadap budaya Tobelo-Galela terus membesar. Kali ini, sikap tegas datang dari Asosiasi Mahasiswa Pemuda Pelajar Tobelo, Galela, Malifut, Morotai, Loloda dan Kao (AMPP-TOGAMMOLOKA) Provinsi Maluku Utara.
Organisasi paguyuban yang berbasis teritorial dan kultural itu menegaskan bahwa adat dan budaya bukan sekadar simbol, melainkan kehormatan dan identitas etnis yang diwariskan turun-temurun, sehingga tidak boleh dijadikan bahan candaan ataupun konten hiburan.
Ketua Umum AMPP-TOGAMMOLOKA Maluku Utara, Muhammad Iram Galela, menyatakan organisasinya mengecam keras beredarnya video viral berdurasi 1 menit 18 detik dan 46 detik yang diduga memperlihatkan tindakan yang dianggap melecehkan Tarian Cakalela, tarian perang yang selama ini menjadi simbol kehormatan, keberanian, dan perjuangan masyarakat Tobelo-Galela.
“Cakalela bukan tontonan untuk dipermainkan. Itu adalah simbol harga diri, keberanian, dan warisan leluhur kami. Siapa pun yang menjadikannya bahan candaan di ruang publik telah melukai perasaan masyarakat adat,”tegas Iram.
Ia menegaskan, AMPP-TOGAMMOLOKA memiliki rekam jejak panjang dalam mengawal dan membela kehormatan etnis Tobelo-Galela. Menurutnya, setiap tindakan yang mengarah pada penghinaan, diskriminasi, maupun pelecehan terhadap identitas budaya akan selalu direspons secara serius.
Iram mengingatkan bahwa organisasinya pernah bersikap keras terhadap seorang pejabat Pemerintah Kota Ternate yang dinilai merendahkan pedagang etnis Tobelo.
“Kami pernah berdiri di garis terdepan ketika ada pejabat yang merendahkan etnis Tobelo. Persoalan rasisme dan pelecehan terhadap identitas budaya selalu kami lawan. Hari ini pun sikap kami tetap sama. Kami tidak akan tinggal diam ketika budaya kami diduga dilecehkan,”ujarnya.
Menyikapi video yang kini ramai diperbincangkan publik, Iram mengaku akan menginstruksikan seluruh departemen terkait di tubuh AMPP-TOGAMMOLOKA untuk melakukan kajian mendalam sebagai dasar menentukan langkah organisasi berikutnya.
Ia menegaskan, persoalan tersebut bukan lagi sekadar isu media sosial, tetapi menyangkut marwah adat, budaya, dan kehormatan masyarakat Tobelo-Galela.
“Saya menginstruksikan departemen terkait untuk mengkaji persoalan ini secara serius. Jika ditemukan adanya unsur yang mencederai kehormatan budaya kami, tentu akan ada langkah organisasi yang lebih tegas. Soal adat dan budaya tidak bisa ditoleransi dalam bentuk apa pun,”katanya.
AMPP-TOGAMMOLOKA juga mengingatkan seluruh figur publik, kreator konten, influencer, maupun pihak penyelenggara kegiatan agar lebih bijaksana dalam menggunakan simbol-simbol budaya daerah sebagai materi hiburan.
Menurut Iram, kebebasan berekspresi tidak boleh mengorbankan kehormatan budaya yang telah dijaga oleh masyarakat adat selama ratusan tahun.
“Budaya adalah identitas. Identitas adalah kehormatan. Dan kehormatan masyarakat Tobelo-Galela tidak akan kami biarkan direndahkan oleh siapa pun,”pungkasnya.(red)
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !