
Kilasmalut.com – Suasana pelantikan Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA-PMII) Kabupaten Halmahera Utara, Sabtu (23/5), mendadak berubah haru. Bukan sekadar agenda organisasi dan pidato seremonial, ruangan itu seketika dipenuhi rasa sedih ketika dua relawan pencarian korban Gunung Dukono dipanggil maju menerima penghargaan.
Mereka adalah Khiril Tatambani dan Rustamin Juanga dua warga lokal yang mempertaruhkan nyawa demi menembus ganasnya lereng Gunung Dukono saat proses pencarian korban pendaki berlangsung.
Di tengah tepuk tangan para tamu undangan, wajah keduanya tampak tenang. Namun di balik itu, tersimpan kisah memilukan tentang perjuangan melawan hujan abu, jalur licin, kabut pekat, hingga ancaman erupsi yang sewaktu-waktu bisa merenggut nyawa siapa saja.
Piagam penghargaan diserahkan langsung oleh Wakil Bupati Halmahera Utara, Dr. Hi. Kasman Hi. Ahmad dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku Utara, Abubakar Abdullah, di sela pelantikan IKA-PMII Halut.
Momen itu menjadi salah satu bagian paling emosional dalam kegiatan tersebut. Beberapa peserta bahkan tampak menundukkan kepala, mengingat kembali tragedi memilukan yang terjadi di puncak Dukono.
Ketua IKA-PMII Halut, Fahmi Musa, mengatakan penghargaan itu bukan sekadar simbol, tetapi bentuk penghormatan atas keberanian dan kemanusiaan yang ditunjukkan para relawan lokal.
“Kami memberikan apresiasi kepada dua relawan lokal yang mampu menerobos medan sulit saat pencarian korban erupsi Gunung Dukono,’ujar Fahmi dengan nada penuh haru.
Menurut Fahmi, apa yang dilakukan Khiril dan Rustamin bukan pekerjaan biasa. Saat sebagian orang memilih menjauh demi keselamatan, keduanya justru naik menembus kawasan berbahaya demi mencari para korban.
Mereka berjalan di tengah jalur curam yang licin, diselimuti hujan abu vulkanik dan dentuman erupsi yang terus terdengar dari perut Gunung Dukono.
Di gunung itu pula, tiga nyawa pendaki akhirnya ditemukan tak lagi bernapas. Dua di antaranya merupakan warga negara asing asal Singapura, sementara satu lainnya warga negara Indonesia.
Tragedi itu meninggalkan luka mendalam, bukan hanya bagi keluarga korban, tetapi juga bagi masyarakat Halmahera Utara yang mengikuti proses pencarian dengan cemas selama berhari-hari.
Selama tiga hari operasi pencarian berlangsung, tim SAR gabungan bersama relawan lokal berjibaku dengan cuaca ekstrem dan ancaman erupsi yang tak pernah benar-benar berhenti.
Kabut tebal, hujan, abu vulkanik, dan medan berbatu menjadi saksi bagaimana para relawan dan tim penyelamat mempertaruhkan keselamatan mereka demi membawa pulang para korban.
IKA-PMII Halut pun turut memberikan apresiasi kepada seluruh Tim SAR gabungan yang terlibat dalam operasi kemanusiaan tersebut.
“Kami juga memberikan apresiasi kepada seluruh Tim SAR gabungan yang telah bekerja keras dalam operasi pencarian korban erupsi Gunung Dukono baru-baru ini,”ungkapnya.
Di tengah hiruk-pikuk pelantikan organisasi, kisah dua relawan itu seolah mengingatkan semua orang bahwa kemanusiaan kadang hadir dalam bentuk paling sunyi, berjalan menembus maut demi menemukan mereka yang tak sempat pulang.(red)
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !