160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT

Visi 4 Zona Hanya Jargon Politik, Piet-Kasman Dituding ‘Ingkar Janji’, Petani Galela Terkapar Tanpa Alat Pertanian

Bupati dan Wakil Bupati Halmahera Utara, Dr. Piet Hein Babua dan Dr. Hi. Kasman Hi. Ahmad.(istimewa)

Kilasmalut.com – Gagasan besar yang dulu dielu-elukan saat kampanye kini mulai terlihat retak. Visi-misi Bupati dan Wakil Bupati Halmahera Utara, Piet Hein Babua dan Kasman Hi. Ahmad, yang membagi wilayah menjadi empat klaster strategis, justru terkesan hanya menjadi jargon politik tanpa realisasi nyata.

Konsep itu membagi daerah menjadi empat zona, yakni Kao-Malifut sebagai kawasan industri, Tobelo sebagai pusat jasa dan perdagangan, Galela sebagai sentra pertanian dan hortikultura, serta Loloda sebagai basis perikanan. Namun, di lapangan, khususnya di Galela, realitas berbicara lain jauh dari janji manis saat kampanye.

Alih-alih menjadi lumbung hortikultura, Galela kini justru menghadapi stagnasi. Para petani terjebak dalam keterbatasan klasik: minim alat, mahal biaya produksi, dan nihil dukungan konkret dari pemerintah daerah. Janji penguatan sektor hortikultura seolah menguap tanpa bekas.

Keluhan paling mencolok datang dari kebutuhan alat berat pertanian, khususnya traktor pembajak (jonder). Hampir seluruh petani mengaku kesulitan mengakses alat tersebut. Jika harus menyewa, biaya yang dikeluarkan dinilai sangat mahal dan tidak sebanding dengan hasil panen yang tidak menentu.

“Setiap kali kami sampaikan ke pemerintah, jawabannya selalu sama: tunggu, nanti diupayakan. Tapi sampai sekarang, tidak pernah ada realisasi,”ungkap beberapa petani dengan nada kecewa.

Pantauan di lapangan menunjukkan, keluhan ini bukan hal baru. Aspirasi sudah berulang kali disampaikan kepada Pemda Halmahera Utara, namun yang diterima petani hanyalah janji yang terus berulang tanpa kejelasan waktu dan tindakan.

Baca Juga :  Polda Maluku Utara Tangani 1.556 Kasus Pidana Umum Sepanjang Tahun 2024

Kondisi ini memunculkan kekecewaan mendalam di kalangan masyarakat. Mereka mulai mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam menjalankan visi yang telah dijanjikan. Bahkan, tidak sedikit yang menilai kepemimpinan saat ini telah gagal menerjemahkan janji politik menjadi kebijakan yang berpihak pada rakyat.

Galela yang seharusnya menjadi episentrum hortikultura kini justru menjadi simbol kegagalan perencanaan. Tanpa alat, tanpa dukungan, dan tanpa keberpihakan nyata, petani dipaksa berjuang sendiri di tengah kerasnya realitas.

Jika situasi ini terus dibiarkan, maka visi besar pembangunan berbasis zonasi hanya akan dikenang sebagai retorika kampanye keras di panggung, namun kosong di lapangan.(red)

You might also like
Lorem Ipsum Dolor Amet?

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor

Promo Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !